Sabtu, 11 September 2010

Kaya, kenapa tidak?

Pengusaha Rindu Syariah,
Seperti biasa agar asa selalu ada bergelora, kita mulai dengan … apa kabar hari ini? Alhamdulillah…Luar Biasa…Allahu Akbar!!! Alhamdulillah, tetap penuh syukur atas nikmat Iman,
Islam dan predikat “Sebaik-baik Penciptaan” lengkap dengan seluruh potensi kehidupannya (QS. At Tin : 4).
Luar Biasa, selalu penuh doa dan cita agar bisa mewujud diri menjadi Muslim Terbaik (QS. Al Fushilat : 33) dan membangkitkan umat menuju predikat Umat Terbaik (QS. Ali Imran : 110). Allahu Akbar, gelora penuh takbir karena semua ini terjadi atas izin-Nya. Jangan lupa, ketika menjawab lengkapi dengan ekspresi penuh semangat!

Pengusaha Rindu Syariah,
Anda pasti pernah mendengar Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf. Ya, beliau itu adalah sebagian dari para sahabat Rasulullah Muhammad SAW. yang dikaruniai Allah SWT kekayaan yang luar biasa. Ada dua hal yang membuat saya kagum. Pertama: Beliau itu hidup begitu sederhana. Kedua: Beliau memiliki kebebasan waktu, sehingga waktunya dicurahkan untuk umat. Bahkan mereka itu bisa dikatakan terdepan dalam dakwah bersama Rasul.
Berikut data harta kekayaan para sahabat (spiritualpreneurship, http://forum.cintarasul.co.id/: diakses 14 Maret 2010 jam: 6.33) :
Kekayaan Umar bin Khattab ra :  Mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian) seharga @ 160juta (total Rp 11,2 Triliun). 
Kekayaan Utsman bin ‘Affan ra : Simpanan uang = 151 ribu dinar (192 Milyar) plus seribu dirham. Beliau mewariskan properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar.

Kekayaan Zubair bin Awwam ra :   50 ribu dinar,  1000 ekor kuda perang,  1000 orang budak.
Kekayaan Amr bin Al-Ash ra : 300 ribu dinar

Kekayaan Abdurrahman bin Auf ra:  Melebihi seluruh kekayaan sahabat!!  Dalam satu kali duduk, pada masa Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf berinfaq sebesar 64 Milyar (40 ribu dinar). Ketika belum kaya, beliau menyumbang separuh hartanya yang senilai 2000 Dinar atau sekitar Rp 2.4 Milyar nilai uang saat ini(saat itu beliau ‘belum kaya’ dan hartanya baru 4000 Dinar atau Rp 4.8 Milyar).
Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang  dibawa oleh kafila perdagangannya kepada penduduk Madinah  padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu  juga tercatat Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan dengan  sembunyi-sembunyi atau terang-terangan antara lain 40,000 Dirham (sekitar Rp 1.4 Milyar uang sekarang), 40,000 Dinar (sekarang senilai +/- Rp 48 Milyar uang sekarang), 200 uqiyah emas, 500 ekor kuda,  dan 1,500 ekor unta.  Beliau juga menyantuni para veteran perang badar yang masih hidup  waktu itu dengan santunan sebesar 400 Dinar (sekitar Rp 480 juta)  per orang untuk veteran yang jumlahnya tidak kurang dari 100 orang.  Ketika meninggal pada usia 72 tahun masih juga meninggalkan harta yang  sangat banyak yaitu terdiri dari 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000  Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8  (istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri). Artinya kekayaan yang  ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar  atau sebesar Rp 3.072 trilyun untuk kurs uang Rupiah saat tulisan ini dibuat !.

Menjadi kaya raya adalah impian semua orang.  Sifat Allah Ar-Rozzaq (Maha Memberi Rizqi), Al-Ghoniy (Maha Kaya) dan Al-Mughniy (Maha Pemberi Kekayaan) yang ditanamkan kepada manusia menjadikan manusia ingin menguasai kekayaan. Namun cara manusia mencapainya terkadang dengan cara yang halal sampai yang menjurus kepada kesyirikan.

Pada zaman keemasan Islam (khoirul qurun), para sahabat Rasulullah SAW menguasai kekayaan dengan motivasi terbaik mereka, beribadah kepada Allah. Dan tentu saja, rizqi yang mereka terima, hanya yang halal saja.  Ciri mereka ada pada keteguhan dan kerja keras dalam berproduksi serta menafkahkan harta waktu dan dirinya untuk mencapai ridha Allah, namun sangat hemat dalam konsumsi. Inilah zuhud yang benar.  Bukan dengan ber-miskin ria lalu melegitimasi kemalasannya dengan baju zuhud.   Wallahu a’lam bishowab.


M. Sholahuddin
Koordinator Pengusaha Rindu Syariah Solo Raya
Direktur Pusat Studi Ekonomi Islam FE UMS

Catatan :
Hak cipta milik Allah Swt, karenanya jika dalam tulisan ini terdapat kebenaran dan kemaslahatan, maka dianjurkan untuk menyebarluaskannya sebagai amal jariyah. Tanpa perlu izin dari penulisnya. Jazakallahu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar